Etika alam sekitar ebook

 
    Contents
  1. Etika Pembebasan by Soedjatmoko
  2. Etika Pembebasan
  3. Asas etika alam sekitar dalam konsep pembangunan mampan
  4. etika alam sekitar ebook download

Kementerian Sains, Teknologi dan Alam Sekitar, Malaysia. Ministry of Science Pencegahan dan kawalan Pencemaran dan Kemerosotan Alam Sekitar. Prevention . etika yang tertinggi. Exercise .. Ekosistem buku ILLTt, larut= Matang, Fuk. Abstract. The concept of sustainable development is the best concept available thus far for balancing development and environment. The view. Etika alam sekitar ebook ebook difiore atlas of histology high school musical what about us funy van dannen dj wich the golden touch driver.

Author:SHERLYN CARTEE
Language:English, Spanish, Indonesian
Country:Cameroon
Genre:Environment
Pages:707
Published (Last):27.09.2016
ISBN:234-7-28785-662-4
Distribution:Free* [*Register to download]
Uploaded by: ANGELA

54192 downloads 174605 Views 13.78MB ePub Size Report


Etika Alam Sekitar Ebook

Mohammad Hatta, dalam buku Alam Pikiran Yunani, juga memulai kajiannya Di era neolitikum, sekitar tahun – SM, penduduk Indonesia asli telah dan Etika Jawa: sebuah Analisa Filsafat tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Semua unit perniagaan dan pekerja Smiths adalah tertakluk 1 Smiths Group plc Kod etika perniagaan. Sebagai . kita juga disertakan buku panduan latihan. Etika alam sekitar daripada perspektif Islam, timur dan barat / Mohd Zuhdi Marsuki, Source: Springer eBooksMaterial type: Book; Format: electronic available.

Search history [ x ]. Your search returned 33 results. Sven Erik Jorgensen, S. Sven Erik. Principles of environmental science and technology. Log in to your account Search history [ x ]. Advanced search Course reserves Authority search Tag cloud download suggestions.

Senatul Romei nu mai avea forta de a numi un Imperator. Christos, in schimb, i-a raspuns sa astepte pana la a Doua Venire a Sa. El reprezinta incarnarea destinului poporului evreu. The Aeneid by Virgil - Goodreads — Share book S-a facut remarcat in razboiul troian, care a durat zece ani.

Florentin Smarandache - Frate cu meridianele si paralelele. Memorii I Tzigara Samurcas. Nu merge pe cal laturalnice. Este energic si curajos. Sensibil, cu toate ca exteriorizarile sint tihnite, ii place a se arata generos, marinimos si trebuie sa i se recunoasca o anumita nobleta a earacterului, caracter ce de altfel e unor de jignit. Nian S. Djoemena mengkaji Filsafat Etnik Jawa dari tradisi luriknya dalam buku Lurik: Garis-garis Bertuah The Magic Stripes.

Suwardi Endraswara membahas Filsafat Hidup yang dipahami khas orang Jawa dalam karyanya Filsafat Hidup Jawa, dan masih banyak lagi filosof Indonesia yang mengkaji Filsafat Etnik, bahkan hingga detik ini. Istilah ini jelas saja diberikan oleh bangsa Barat untuk bangsa Timur. Pada kenyataannya, tidak semua bangsa Timur filsafatnya dikenal baik oleh bangsa Barat.

Tao Teh Ching bagi Orang Modern. Sinar Harapan, memuat dengan jenial ikhtisar sejarah filsafat politik Cina Modern yang dipahami filosof Indonesia dari etnik Cina. Filsafat ini adalah hasil eksperimen filosofis dari beberapa filosof kreatif dari Indonesia, yang menghasilkan corak filosofis yang menarik dan orisinil. Sambhara Suryawarana, seorang penulis kitab suci Buddhisme yang hidup di kerajaan Medang Hindu di sekitar tahun , memuji-muji raja Sindok yang Hinduist di dalam kitab suci Buddhist yang dikarangnya, Sang Hyang Kamahayanikan.

Mpu Prapanca menulis buku Negarakertagama dan Ramayana Kakawin. Ramayana Kakawin ialah terjemahan epik Hindu-India yang disesuaikan dengan alam pikiran Indonesia primitif, sementara Negarakertagama ialah karya puisi epik berbahasa Jawa Kuno yang menjelaskan filsafat yang dianut Kertanagara , seorang raja terbesar dari Dinasti Singhasari, yang memadukan filsafat Siwaisme-Hindu dengan Buddhisme.

Sedangkan Mpu Tantular, seorang pengarang yang hidup di masa pemerintahan Hayam Wuruk , menulis buku Sutasoma, yang memadukan filsafat Buddhisme dengan Syiwaisme-Hindu. Raja Dharmawangsa pernah memerintahkan penerjemahan Mahabharata ke bahasa Jawa Kuno—tindakan yang memungkinkan masuknya alam pikiran primitif Jawa ke dalam epik Hinduisme-India itu.

Juga raja Jayabaya , yang memerintahkan penyaduran Bharatayudha versi India menjadi versi Jawa, untuk menggambarkan perang saudara antara Jayabaya sebagai Pandawa dengan sepupunya Jenggala sebagai Kurawa. Bahkan, raja Indra dari Sailendra membangun Candi Borobudur yang bertingkat 9, untuk memuja arwah 9 keluarga moyangnya dalam perjalanan mereka menuju Nirvana.

Dari survei, penulis hanya menemukan 2 karya yang ditulis filosof Indonesia mengenai cabang filsafat ini: Sekarang kajian Western Philosophy dipecah-pecah menjadi banyak cabang, seperti Analytic Philosophy, Continental Philosophy, German Philosophy, dan lain-lain.

Bentuk pemerintahan Republik, konstitusi negara modern, lembaga perwakilan rakyat, distribusi kekuasaan yang sejalan dengan Trias Politica, partai politik, dan ideologi partai tersebut sungguh-sungguh cerminan pengaruh alam pikiran Barat.

Materialisme, Dialektika, Logika dan D. Semaoen mengkaji organisasi buruh komunis dalam bukunya Toentoenan Kaoem Boeroeh. Juga oleh Wajid Anwar L. Filsafat Etika dikaji oleh K. Juga dikaji oleh W. Poespoprodjo dalam bukunya Filsafat Moral, dan I. Poedjawijatna dalam bukunya Etika Filsafat Tingkah Laku. Filsafat Epistemologi Barat dikaji SJ. Ghozi Badrie dalam karyanya Filsafat Umum: Aspek Epistemologi. Filsafat Logika dikaji oleh I. Poedjawijatna dalam karyanya Logika: Apakah Hukum itu?

Juga oleh Moertono dalam bukunya Filsafat Hukum: Metodik Penelitian Ilmu Desisi. Filsafat Politik dikaji oleh J. Filsafat Sejarah dikaji oleh beberapa filosof, seperti H. Potensi Penanganan Masalah. Filsafat Sastra dan Budaya juga dikaji satu-satunya oleh FX. Mudji Sutrisno dalam karyanya Filsafat Sastra dan Budaya. Filsafat Ekonomi juga dikaji satu-satunya oleh Save M. Demikian pula Filsafat Administrasi yang dikaji hanya oleh Sondang P.

Siagian dalam buku Filsafat Administrasi.

Etika Pembebasan by Soedjatmoko

Cabang filsafat ini merupakan genre filosofis yang corak Baratnya telah sejauh mungkin dirubah, untuk disesuaikan dengan situasi historis kongkrit di Indonesia. Utami Munandar. Soekarno mengkaji komunitas Proletar dari Filsafat Komunisme untuk diterapkan pada situasi kongkrit Indonesia, sebagaimana terlihat dalam tulisan-tulisannya yang dikumpulkan dan diterbitkan oleh Penerbit Grasindo dengan judul Bung Karno tentang Marhaen.

Adaptasionisme juga dilakukan Moh.

Hatta, ketika ia berbicara tentang demokrasi Barat modern untuk diterapkan dalam situasi kongkrit Indonesia dalam bukunya Mohammad Hatta: Juga pengkajian demokrasi Barat yang diterapkan Sjahrir dalam situasi kongkrit Indonesia dalam karyanya Pemikiran Politik Sjahrir. Filsafat Feminisme yang diterapkan dalam mengkaji kaum wanita Indonesia dilakukan oleh Soekarno dalam bukunya Sarinah: Kisah Perempuan Korban Patriarki.

Keterkaitan Usaha Partisipasi v. Permadi dalam bukunya Pengantar Ilmu Tasawwuf, M. Solichin dalam karyanya Kamus Tasawuf, Sukardi Kd. Tentang Kebudayaan. Sedangkan Filsafat Politik Islam dikaji oleh A. Sedangkan Filsafat Pembebasan Liberasionisme dikaji oleh Muh. Juga oleh Fachrizal A. Halim dalam karyanya Beragama dalam Belenggu Kapitalisme. Sedjarah dan Perkembangannya dalam Dunia Internasional, H. Bakker dalam karyanya yang klasik Pengantar Filsafat Islam.

Munir dalam bukunya Aliran Modern dalam Islam, H. Walaupun belum layak dianggap sebagai suatu mazhab filsafat, pandangan mereka mulai diterima luas oleh masyarakat Islam Indonesia. Hartono Ahmad Jaiz dapat dimasukkan dalam mazhab ini. Filsafat Kristen Seperti Filsafat Islam, Filsafat Kristen Christian Philosophy adalah filsafat yang lahir di wilayah kuasa Kristen dan diproduksi oleh komunitas religius Kristen yang menetap di wilayah itu.

Hanafi dalam bukunya Filsafat Skolastik. Hardawiryana dalam bukunya Cara Baru Menggereja di Indonesia: Umat Kristen Mempribumi. Banawiratma, A. Suryawasita, I. Suharyo, C.

Etika Pembebasan

Putranta, R. Hardawiryana, AL. Purwahadiwardaya, TH. Sumartana, Greg Soetomo, dan Budi Purnomo. Darmawijaya dalam bukunya Perempuan dalam Perjanjian Lama. Kritik terhadap Soehartoisme sudah mulai merebak sejak dasawarsa an dari kampus ITB Bandung dan Peristiwa Malari di Jakarta , tapi semua kritikan itu tidak didengar. Sejak dasawarsa an menjelang lengser Soeharto, kembali kritikan dilancarkan oleh beberapa filsuf baru.

Merekalah cikal-bakal tokoh filsafat yang kemudian dinamakan filsafat paska-Soeharto. Menggugat Dakwaan Subversif. Pius Lustrilanang. Setelah Soeharto lengser, rupanya Soehartoisme tidak bersama-sama tumbang. Soehartoisme masih bertahan, beradaptasi dengan situasi Indonesia baru, bahkan hingga saat ini. Isme-Isme dalam Filsafat Indonesia S ebelum menentukan isme-isme apa saja yang dapat dibuat dalam semesta Filsafat Indonesia, alangkah baiknya jika mengkaji lebih dulu tentang bagaimana suatu isme dalam filsafat dibuat.

Ada 2 cara membuat kategori isme yang selama ini dipakai peneliti filsafat: Misalnya, dalam teks-teks Plato rupanya ditemukan doktrin sangat penting tentang idea, sehingga peneliti filsafat menyebut ajaran Plato yang amat penting itu dengan sebutan idealism. Begitu pula dengan ajaran penting Hegel tentang Idea yang darinya berasal sebutan idealism. Perbedaan kedua cara penyebutan isme itu sangat berpengaruh pada fondasi filsafat yang dibangun.

Apakah penyebutan isme-isme dalam struktur Filsafat Barat dapat diterapkan pada struktur Filsafat Indonesia? Ada 2 kemungkinan.

Tan Malaka dan D. Aidit, karena itu, dapat disebut sebagai filosof Marxist. Tapi, pada galibnya, filosof-filosof Indonesia memiliki doktrin-doktrin khas, yang berbeda dari yang biasa ditemukan dalam teks-teks Filsafat Barat. Jadi, peneliti filsafat boleh saja meminjam kategorisasi isme Barat atau boleh pula membuat kategorisasinya sendiri, sesuai dengan tema-tema yang diangkat oleh seorang filosof di negaranya.

Kedua cara pembuatan isme tadi akan kita terapkan pada struktur Filsafat Indonesia. Cara 1 penulis terapkan ketika membuat isme-isme seperti Soekarnoisme dan Soehartoisme. Untuk maksud pengantar, disini akan dibahas sedikit tentang isme-isme dalam Filsafat Indonesia. Artinya, suatu filsafat digabungkan dengan filsafat lainnya untuk membentuk struktur filsafat yang baru.

Biasanya, filsafat-filsafat yang dicampur-baur itu berlawanan sifatnya, berbeda isinya, kontras nuansanya. Contoh sintesisme yang paling populer di mata sejarawan filsafat ialah apa yang dilakukan Mpu Prapanca , seorang filosof yang hidup di masa pemerintahan Kertanegara dari Dinasti Singhasari. Cara yang sama juga ditempuh oleh Mpu Tantular, seorang filosof yang hidup di masa pemerintahan Hayam Wuruk , yang menulis buku Sutasoma, di dalamnya ia berhasil memadukan filsafat Buddhisme dengan Syiwaisme-Hindu.

Asas etika alam sekitar dalam konsep pembangunan mampan

Perpaduan dua filsafat India yang amat berbeda itu—Buddhisme justru lahir di India sebagai reaksi negatif terhadap Hinduisme—oleh filosof-filosof Indonesia melahirkan corak filsafat yang baru, yang terkenal sebagai filsafat Tantrayana. Soekarno, seorang pendiri Republik kita, juga seorang sintesist. Dia mencoba menyintesa tiga aliran filsafat yang amat bertolak-belakang: Nurcholish Madjid, seorang filosof Islam, juga seorang sintesist.

Beliau mencoba menyintesa tiga aliran filsafat yang berbeda: Berbeda dengan Soekarno, Nurcholish sangat berhasil, karena amat didukung penguasa saat itu.

Artinya, suatu filsafat diubah sedemikian rupa, sehingga menjadi sesuai dengan situasi Iindonesia dan dapat digunakan dalam konteks Indonesia. Biasanya, yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi Indonesia adalah filsafat-filsafat asing, bukan filsafat asli Indonesia sendiri. Filosof yang tergolong isme ini umumnya berasumsi bahwa segala produksi filsafat bersifat lokal, regional, dan partikular; tidak ada filsafat yang universall secara absolut.

Karena itu pula, kebenaran filsafat tidak pernah universal-absolut. Menurut logika mereka, misalnya, Marxisme yang lahir dari sejarah lokal Barat tidak bisa diterapkan atau dicangkok begitu saja pada sejarah kongkrit Indonesia, karena kedua area itu memiliki struktur budaya dan peradaban yang berbeda.

Marxisme yang hendak dibangun akar-akarnya di Indonesia harus diubah sedemikian rupa, sehingga sesuai dengan alam Indonesia.

etika alam sekitar ebook download

Utami Munandar, D. Aidit, dan lain-lain adalah contoh dari filosof adaptasionist yang mengadaptasikan Filsafat Barat ke dalam situasi kongkrit Indonesia.

Nasi goreng adalah makanan asli tradisional yang biasanya digoreng dengan minyak kelapa. Namun, jika margarin yang berasal dari Belanda dapat membuat nasi goreng itu bertambah enak, maka tak ada alasan seseorang harus menolak penggunaan margarin itu, selama yang menggorengnya ialah orang Indonesia sendiri. Begitu pula dengan H. Lamaisme Isme ini bertolak dari pandangan, bahwa segala tradisi lama, tradisi primordial, dan tradisi asli Indonesia adalah tradisi yang harus dilestarikan, sebab dalam tradisi itulah terletak asal dan tujuan keberadaan manusia Indonesia, alpha dan omega kehidupan manusia Indonesia, sangkan dan paran dari penciptaan manusia Indonesia.

Semua filosof etnik Indonesia seperti M. Nasroen, Sunoto, R. Pramono Jakob Sumardjo, P. Lamaisme menjadi trend kembali di era Orde Baru, karena filosof lamaist menemukan borok-borok modernisasi Barat sekuler yang diusulkan filosof baruist.

Semua filosof agama, baik dari Islam, Katolik, Protestantisme, Buddhisme, Hinduisme, dan Konfusianisme, yang menolak pembaruan religious reforms dalam dogmatika tradisionalnya juga dapat masuk dalam kelompok lamaisme ini.

Baruisme Isme ini adalah lawan dari lamaisme. Apa yang hendak dilestarikan oleh lamaisme akan diserang dan dibatalkan oleh baruisme, karena ia bertolak pada anggapan bahwa segala tradisi lama adalah tradisi yang tidak membawa kepada kemajuan, tradisi usang yang tidak lagi relevan dengan zaman yang terus berubah, atau tradisi dekaden yang apabila tetap dilestarikan akan membuat Indonesia tidak pernah maju.

Isme ini sangat anti dengan filsafat etnik asli, karena, dalam logika tokoh-tokohnya, filsafat etnik masih melestarikan feudalisme dan sukuisme yang justru dianggap sebagai musuh kebudayaan baru Indonesia.

Tan Malaka, dalam bukunya Massa Actie, amat mencela tradisi lama dan mengusulkan tradisi baru yang diambil dari tradisi Barat. Begitu pula halnya dengan Sutan Takdir. Sejak polemiknya yang terkenal di era an dengan Ki Hajar Dewantara hingga tulisan-tulisannya sampai beliau wafat, Sutan Takdir secara konsisten mengutuk tradisi lama dan mengusulkan tradisi baru Barat sebagai gantinya.

Nurcholish, lantas, mengusulkan desakralisasi atau sekularisasi, yang pada intinya merupakan pemutusan langsung direct shift dan penolakan tegas untuk melestarikan Masyumisme kuno. Sebagai gantinya, Nurcholish menciptakan prinsip baru yang amat revolusioner di era an, Islam, Yes! Partai Islam, No! Terpimpinisme bertolak dari pandangan bahwa rakyat Indonesia masih membutuhkan figur seorang pemimpin yang dapat mendidik mereka, melindungi mereka, menunjuki mereka, dan memandu mereka untuk menuju kemajuan.

Soeharto dapat pula dimasukkan ke dalam filosof terpimpinist ini. Lalu pertanyaannya kemudian adalah apakah sejarawan filsafat Indonesia juga harus mengikuti pembagian periode seperti itu? Jika memang harus mengikuti periodisasi Barat dan Cina itu, kapankah periode Klasik dari Filsafat Indonesia itu? Bisa saja dikatakan bahwa periode Klasik dari Filsafat Indonesia adalah periode yang dihitung sejak era neolitik sekitar SM hingga awal abad 19 M, lalu periode Modern sejak awal abad 19 M hingga era Soeharto lengser, dan periode Kontemporer sejak Soeharto lengser hingga detik ini Sekilas nampaknya periodisasi tadi tidak problematik, tapi jika ditelaah lebih dalam mengandung banyak persoalan.

Persoalan-persoalan yang muncul ialah seperti: Apakah perbedaan periode itu didasarkan pada perbedaan point of concern pusat perhatian yang dikaji filosof di era tertentu? Banyaknya persoalan yang muncul dengan mengikuti periodisasi ala Barat dan Cina menunjukkan, bahwa model periodisasi seperti itu tidak tepat untuk sejarah Filsafat Indonesia.

Harus dicari model periodisasi lain yang dapat memuat kurang-lebih segala filsafat yang pernah diproduksi sejak era neolitikum hingga sekarang. Di bawah ini akan diajukan 2 model periodisasi yang mungkin lebih cocok untuk penulisan sejarah Filsafat Indonesia. Periodisasi Berdasarkan Interaksi Budaya Periodisasi Filsafat Indonesia dapat dibuat berdasarkan datangnya budaya-budaya asing yang berinteraksi dengan budaya asli Indonesia, dengan cara membuat kronologi historis dan menyebutkan dari budaya dunia mana sumber filosofis itu berasal-mula.

Periode Etnik dimulai ketika filsafat etnik asli Indonesia masih dipeluk dan dipraktekkan oleh orang Indonesia sebelum kedatangan filsafat asing. Filsafat Indonesia pada periode Etnik, misalnya, berisi mitologi filosofis, pepatah-petitih, peribahasa, hukum adat, dan segala yang asli dalam filsafat-filsafat etnik Indonesia. Periodisasi Berdasarkan Kejadian Historis Penting Periodisasi Filsafat Indonesia juga dapat dibuat berdasarkan kejadian-kejadian penting dalam perjalanan sejarah Indonesia, seperti periode pra-Kemerdekaan, periode Kemerdekaan, periode Soekarno, periode Soeharto, dan periode paska-Soeharto.

Yang termasuk dalam periode pra-Kemerdekaan ialah filsafat-filsafat mitologi etnik asli Indonesia, filsafat adat etnik Indonesia, filsafat Konfusianisme, filsafat Hinduisme dan Buddhisme, filsafat Tantrayana, filsafat Islam-Arab, filsafat Sufisme Persia, dan filsafat Pencerahan Barat.

Sedangkan filsafat-filsafat yang masuk dalam periode Kemerdekaan ialah filsafat Modernisme Islam, filsafat Marxisme-Leninisme, filsafat Maoisme, filsafat Sosialisme Demokrat, dan filsafat Demokrasi. Periode Soeharto dimulai ketika filsafat Modenisasi dan Developmentalisme didewa-dewakan, kemudian filsafat Pancasila, filsafat Ekonomi Pancasila, filsafat Kebatinan, filsafat sekularisme yang sedang marak.

Periode paska-Soeharto dimulai ketika kritik terhadap filsafat Developmentalisme marak dan filsuf mencari alternatif pada filsafat-filsafat lain seperti Liberasionisme, Transformatifisme, Reformisme, dan Revolusionisme. Kegunaan metode dalam lapangan filsafat sungguh sangat besar. Filsafat adalah realitas yang terus bergerak abadi dan berseliweran di depan mata seorang filosof, karena sejarah waktu dan ruang terus berubah abadi.

Hanya metodelah yang mampu membuat still photo dari realitas filsafat yang bergerak abadi itu. Banyak sekali metode yang dapat digunakan untuk memahami gejala filsafat di Indonesia, mulai dari yang imported hingga yang dikembangkan sendiri di tanah-air.

Di bawah ini hanya sekadar contoh dari beberapa metode pengkajian filsafat yang telah dilakukan oleh beberapa pengkaji Filsafat Indonesia.

Metode Survival Economy Metode ini mengingatkan kita pada dikotomi superstructure-infrastructure dalam Marxisme. Marx pernah berpendapat bahwa produksi budaya superstructure —mencakup agama, seni, dan filsafat—berjalan bersamaan dengan jenis produksi ekonomis infrastructure.

Bahkan, infrastructurelah yang menentukan corak superstructure. Begitupula dengan mode of production kapitalisme, yang melahirkan budaya kapitalistik. Menurut Jakob, filsafat suatu masyarakat di Indonesia tergantung pada cara masyarakat itu bertahan hidup survive ; cara masyarakat itu memanfaatkan alam sekitarnya demi kelangsungan hidup komunalnya.

Jika masyarakat itu dapat bertahan hidup dengan cara bersawah, maka filsafat yang diproduksi akan berhubungan dengan sawah konsep kesuburan, konsep hari baik, konsep musim baik, konsep hidup sesuai alam, dll. Metode Historis Metode ini adalah metode yang paling kuno untuk mengkaji fenomena kemanusiaan, termasuk fenomena filsafat. Filsafat Indonesia pertama-tama ditaruh dalam bingkai sejarah, lalu diurai dalam suatu kronologi, kemudian dalam kronologi itu dimasukkan nama-nama tokoh Filsafat Indonesia.

Titik-tolak Ferry ialah pandangan bahwa filsafat—dimanapun dan kapanpun ia diproduksi— merupakan produk sejarah, dan karena itu, maka konteks sejarah yang melingkari filsafat itu harus ditemukan jika filsafat hendak dipahami secara lebih baik.

Filsafat Marxisme, misalnya, akan lebih baik dipahami jika ditemukan konteks historis yang melingkari produksi Marxisme itu: Realitas politik apa di era Marx dan Engels hidup yang mendorong mereka membangun classless society? Jika semua pertanyaan itu dapat ditemukan jawabannya lewat kajian historis, maka filsafat Marxisme dapat dipahami secara lebih dalam. Metode Komparasi dan Kontras Cara lain untuk mengkaji Filsafat Indonesia ialah dengan cara mencari perbedaan dan kesamaan di antara filsafat-filsafat sejagat yang ada, lalu perbedaannya ditunjukkan, sehingga nampak fitur distingtif dari Filsafat Indonesia.

Nasroen menggunakan metode perbandingan dan kontras untuk menunjukkan segi-segi berbeda dari Filsafat Indonesia yang membedakannya dari filsafat-filsafat sejagat lainnya dalam karyanya Falsafah Indonesia. Ia membandingkan tradisi Filsafat Barat, Filsafat Timur, dan Filsafat Indonesia, lalu berkesimpulan bahwa Filsafat Indonesia amat berbeda dari dua filsafat lainnya karena mengajarkan ajaran-ajaran asli tentang mupakat, pantun-pantun, Pancasila, hukum adat, ketuhanan, gotong-royong, dan kekeluargaan.

Metode Kritik Teks Metode ini mengkaji Filsafat Indonesia langsung dari teks-teks filsafat yang diwariskan seorang filosof tertentu. Artinya, semua karya seorang filosof Indonesia dikumpulkan, lalu ditelaah secara seksama, diperhatikan konsep-konsep utamanya.

Setelah selesai ditelaah, dibangunlah beberapa kesimpulan tentang teks itu, dan dari kesimpulan itu dibangunlah pengertian tentang struktur filsafat yang dibangun teks itu.

Metode ini telah diterapkan P. Zoetmulder, Sunoto, R. Pramono, dan Jakob Sumardjo dalam karya-karya mereka. Untuk memahami konsep-konsep kenegaraan Jawa Kuno, Sunoto mengunjungi candi-candi di Jawa, mengamati relik-relik candi untuk merenungi pesan cerita yang dipahatkan di atasnya, menghirup udara di sekitar candi, bersemadi di dalam area candi untuk merasakan auranya, mencoba memasukkan citra fisik dan citra metafisik dari candi itu ke dalam badan dan jiwanya, dan saat itu semua berhasil diinternalisir, Sunoto menghentikan semadinya dan kemudian membangun konsep-konsep subjektif tentang konsep kenegaraan Jawa darinya.

Selain metode di atas, tentu saja masih banyak metode lainnya yang dapat dipakai dalam memahami gejala dan realitas Filsafat Indonesia. Filsafat Etnik 1.

Metafisika dalam Budaya Jawa 2. Metafisika dalam Budaya Sunda 3. Metafisika dalam Budaya Bugis 4. Metafisika dalam Budaya Bali 5.

Metafisika dalam Budaya Batak 6. Metafisika dalam Budaya Riau 7. Metafisika dalam Budaya Lombok 8. Metafisika dalam Budaya Kalimantan 9. Metafisika dalam Budaya Sulawesi Metafisika dalam Budaya Papua Etika dalam Budaya Sunda Etika dalam Budaya Batak Etika dalam Budaya Bugis Etika dalam Budaya Kalimantan Etika dalam Budaya Papua Teori Pengetahuan dalam Budaya Jawa Teori Pengetahuan dalam Budaya Bali Teori Pengetahuan dalam Budaya Lombok Teori Pengetahuan dalam Budaya Sunda Teori Pengetahuan dalam Budaya Papua Teori Pengetahuan dalam Budaya Riau Teori Pengetahuan dalam Budaya Kalimantan Teori Pengetahuan dalam Budaya Batak Konsep Kekuasaan dalam Budaya Jawa Konsep Kekuasaan dalam Budaya Bali Konsep Kekuasaan dalam Budaya Batak Konsep Kekuasaan dalam Budaya Bugis Konsep Kekuasaan dalam Budaya Kalimantan Konsep Kekuasaan dalam Budaya Papua Konsep Manusia dalam Budaya Jawa Konsep Manusia dalam Budaya Bali Konsep Manusia dalam Budaya Batak Konsep Manusia dalam Budaya Bugis Konsep Manusia dalam Budaya Riau Konsep Manusia dalam Budaya Papua Kosmologi dalam Budaya Jawa Kosmologi dalam Budaya Sunda Kosmologi dalam Budaya Bali Kosmologi dalam Budaya Bugis Kosmologi dalam Budaya Lombok Kosmologi dalam Budaya Sulawesi Kosmologi dalam Budaya Papua Konsep Tuhan dalam Budaya Jawa Konsep Tuhan dalam Budaya Bali Konsep Tuhan dalam Budaya Lombok Konsep Tuhan dalam Budaya Lampung Konsep Tuhan dalam Budaya Palembang